Makanan Gosong Tidak Menyakiti Siapapun

Mantan presiden India, DR. Abdul Kalam berkata:

“Waktu aku masih kecil, ibuku memasak makanan untuk kami. Suatu malam dia membuat makan malam setelah seharian bekerja keras,

Ibu meletakan sepiring ‘sabzi’ dan roti gosong didepan Ayahku.

Aku menunggu untuk melihat apakah ada respon negatif dari ayah terhadap roti gosong itu.

Ternyata Ayahku tenang saja makan rotinya, ayah bertanya padaku bagaimana kegiatan disekolahmu hari ini.?

Aku tidak ingat apa yang kukatakan padanya malam itu, tapi yang aku ingat aku mendengar Ibu meminta maaf kepada Ayah atas roti yang gosong itu.

Aku tak akan pernah lupa yang ayah katakan.., sambil tersenyum ayah mengatakan ;

“Sayang…, aku sesekali suka makan roti gosong” sambil mencium kening ibu

Malamnya, sebelum tidur… aku mencium Ayah, mengucapkan selamat malam. Aku bertanya apa Ayah benar-benar menyukai rotinya yang gosong.

Ayah memelukku:

“Ibumu melalui hari yang berat dengan pekerjaan hariannya dari bangun sampai tidur lagi, dan tentu ibumu benar-benar lelah.

Roti gosong tidak pernah menyakiti siapapun, Kata-kata kasarlah yang akan “menyakiti” hati ibumu.

“Kau tahu nak..? hidup ini penuh dengan hal-hal yang tidak sempurna dan orang-orang yang tidak sempurna.

Ayahpun bukan lelaki sempurna, belajarlah untuk menerima “ketidak sempurnaan itu”… supaya kamu bisa menikmati kebahagiaan bersama keluargamu nanti….

 

Sumber : https://www.facebook.com/100264492303008/posts/303620465300742/

SMA Negeri 4 Praya : Hari Lahir Pancasila, Momen Refleksi dan Penguatan Nilai-Nilai Pancasila dalam Tindakan Gotong Royong Menuju Indonesia Maju

Hari Lahir Pancasila, Momen Refleksi dan Penguatan Nilai-Nilai Pancasila dalam Tindakan Gotong Royong Menuju Indonesia Maju

(Penulis: Dadik Math)

Momentum sejarah 1 Juni merupakan tonggak lahirnya dasar negara Indonesia yaitu pancasila. Pancasila dapat diibarakan seperti sebuah energi yang dapat mengihupkan dan menopang segala aktivitas bangsa Indonesia dari berbagai gejolak dan tantangan global.

Saat ini bangsa Indonesia dan seluruh bangsa di dunia tengah mengalami tantangan besar yakni pandemi covid-19. Virus mematikan itu tidak hanya merongrong kondisi kesehatan bangsa Indonesia, namun juga menyerang dari semua lini kehidupan ekonomi, politik, agama, sosial budaya, dan pendidikan.

Peringatan hari Pancasila ditengah pandemi covid-19 menjadi momen yang tepat untuk merenungkan dan merefleksikan  aktualisasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Pancasila nampaknya mudah sekali dilupakan dalam praktik kehidupan bangsa.

Cobalah kita renungkan bagaimana nilai-nilai Pancasila ditinggalkan disaat bangsa sedang mengalami serangan covid-19. Seakan-akan virus mematikan itu memangsa kondisi sosial bangsa. Pancasila begitu mudah dilupakan ketika agama diartikan sebatas ibadah formal saja. Pancasila begitu mudah diabaikan ketika sikap kemanusiaan dikalahkan oleh egoisme. Pancasila begitu mudah dihianati ketika persatuan hanya mementingkan persatuan golongan saja, ketika politik hanya diartikan sebagai strategi untuk mendulang suara, dan ketika keadilan hanya dinikmati oleh yang memegang kekuasaan.

Telah terjadi simpangan yang amat jauh antara nilai Pancasila dengan praktik dalam kehidupan berbangsa. Seolah ada kegagalan praktik dalam implementasi nilai-nilai Pancasila. Padahal jika kita membaca sejarah, Pancasila sebagai dasar negara dirumuskan dengan sangat teliti dan penuh kehati-hatian. Pilihan sila pada Pancasila sebagai dasar negara telah melalui perdebatan panjang dan melelahkan antara para pendiri bangsa. Para pendiri bangsa ini berupaya keras mengeluarkan pikiran terbaiknya untuk menyusun Pancasila atas dasar gotong royong dalam kebersamaan dan persatuan.

Berangkat dari pemikiran itu, keluarga besar SMA Negeri 4 Praya mengajak kepada semua lapisan elemen masyarakat untuk merefleksikan dan menguatkan kembali nilai-nilai Pancasila dengan bertemakan “pancasila dalam tindakan gotong royong menuju Indonesia Maju”

SMA Negeri 4 Praya sebagai institusi pendidikan berupaya menjadikan pancasila menjadi corong dan penjaga kebangsaan melalui proses pendidikan. Proses pendidikan yang menurut Ki Hadjar Dewantara harus selaras dengan penghidupan dan kehidupan bangsa agar anak memiliki rasa cinta bangsa (Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1962). Oleh sebab itu, Dari ruang pendidikanlah kecintaan terhadap bangsa dan negara patut dikuatkan.

Menguatkan Pancasila dalam pemahaman maupun praktik di dunia pendidikan menjadi amat penting. Harapannya, ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain, menghargai kemanusiaan, mengedepankan persatuan, senang bermusyawarah dan berdialog, juga berusaha mewujudkan keadilan sosial akan dapat diimplementasikan tak sebatas dalam kata, namun juga dalam perbuatan.

YouTube player